Kamis, 14 November 2013

Artikel Perekonomian Indonesia



Nama   : Erni Rismayana

NPM   : 22211475

Tugas   : Artikel Perekonomian Indonesia – (paragraf deduktif)



Ekonomi Indonesia Triwulan II/2013

 



Perekonomian Indonesia yang diukur berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku pada Triwulan II-2013 mencapai Rp2.210,1 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan 2000 mencapai Rp688,9 triliun.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diukur berdasarkan kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB) pada triwulan II-2013 dibanding triwulan I-2013 mencapai 2,61 persen (q-to-q) dan apabila dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun 2012 mengalami pertumbuhan 5,81 persen (y-on-y). Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Indonesia semester I-2013 dibandingkan dengan semester I-2012 tumbuh 5,92 persen (c-to-c) – (umum).

Pertumbuhan ekonomi triwulan II-2013 dibandingkan triwulan II-2012 (y-on-y) didorong oleh hampir semua sektor. Pertumbuhan tertinggi dicapai Sektor Pengangkutan dan Komunikasi yang tumbuh sebesar 11,46 persen. Sementara bila dibandingkan dengan triwulan I-2013 (q-to-q), pertumbuhan tertinggi dicapai Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih sebesar 4,84 persen.

Pertumbuhan semester I-2013 dibanding semester I-2012 (c-to-c) didukung oleh semua sektor kecuali Sektor Pertambangan dan Penggalian yang mengalami penurunan sebesar 0,70 persen dan pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Sektor Pengangkutan dan Komunikasi sebesar 10,73 persen.

Struktur PDB triwulan II-2013 didominasi oleh Sektor Industri Pengolahan, Sektor Pertanian, dan Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran masing-masing memberikan kontribusi sebesar 23,77 persen, 14,98 persen, dan 14,40 persen – (khusus).

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi dinilai belum disertai pemerataan ekonomi hingga ke daerah-daerah. Hal itu dikarenakan Indonesia telanjur menganut pola pusat pertumbuhan di Jawa untuk kemudian melakukan distribusi ke daerah-daerah. Sementara pilihan seperti itu tidak disertai dengan pembangunan infrastruktur yang mendukung distribusi.

Selama ini alokasi pemerintah Indonesia untuk infrastruktur dinilai sangat minim. Padahal itu penting untuk menyokong pertumbuhan ekonomi. Ia mengatakan, perbaikan infrastruktur merupakan satu-satunya jalan yang bisa ditempuh pemerintah di tengah harga-harga komoditas dunia yang belum akan membaik dalam satu, dua tahun mendatang.

Bank Dunia menyatakan, pemerintah Indonesia harus betul-betul mengalokasikan anggaran yang besar untuk membangun infrastruktur. Budgeting belanja pemerintah untuk infrastruktur adalah kuncinya (pertumbuhan ekonomi)," ungkap Senior Macro Economist World Bank, Asley Tylor dalam diskusi di Kantor Bank Dunia, BEI, Jakarta, Senin (7/10/2013).

Dalam rilis terbarunya, Bank Dunia menaksir pertumbuhan ekonomi Indonesia bakal melambat pada 2014, hanya di kisaran 5,3 persen. Ini lebih rendah dibanding proyeksi pertumbuhan ekonomi 2013 yang sebesar 5,6 persen. Perlambatan ini, menurut Ekonom Utama Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik,  Bert Hofman sedikit banyak memang dipengaruhi oleh shutdown  pemerintah Amerika Serikat, di samping rencana tappering off oleh the Fed. Namun, Hofman juga mengatakan dampak tersebut bisa diminimalisir jika pemerintah Indonesia mampu meningkatkan konsumsi domestik.


Daftar pustaka :




http://bisnis.liputan6.com/read/731721/infrastruktur-belum-memadai-buat-biaya-transportasi-melonjak




Nama   : Erni Rismayana


NPM   : 22211475

Tugas   : Artikel Perekonomian Indonesia – (paragraf induktif)



Keterlibatan Sektor Keuangan, Pengentasan Kemiskinan dan Pertumbuhan Ekonomi
 


Metrotvnews.com, Jakarta: Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini akan berada di kisaran 5,5% sampai dengan 6%. Prediksi ini didasari oleh pertumbuhan kinerja ekspor yang saat ini cenderung melambat dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD).

Demikian informasi itu disampaikan oleh Ekonom Senior ADB, Edimon Ginting di Jakarta, Jumat (20/9). Menurutnya, salah satu dampak kenaikan BI rate secara agresif akan berpengaruh secara langsung kepada perlambatan pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Namun, hal tersebut dinilai wajar karena bertujuan untuk mengurangi tekanan defisit transaksi berjalan yang semakin melebar.

"Sektor konsumsi di Indonesia memang cukup besar dan dominan, setidaknya memiliki porsi sekitar 65 persen," kata Aviliani Komisaris Independen PT Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Ia mengatakan pertumbuhan ekonomi juga bisa terdorong dengan menyasar sektor pertanian yang selama ini kesulitan mengakses perbankan. Banyak pembaca The Jakarta Post cukup terhubungkan dalam  pelayanan keuangan, hal serupa tidak dapat dikatakan bagi lebih dari 50 persen penduduk Indonesia, terutama mereka yang miskin, dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah dan yang hidup di daerah-daerah yang lebih terpencil di negara ini. Sebabnya adalah sebagian besar sistem perbankan dan keuangan di Indonesia — seperti halnya di negara-negara berkembang yang lain — melayani individu dengan penghasilan yang lebih tinggi atau perusahaan-perusahaan yang berukuran lebih besar terutama di daerah-daerah  perkotaan. Sebagai contoh, seorang pembantu yang bekerja di Jakarta, dengan gaji bulanan dan tidak memiliki rekening bank, akan sulit untuk menyisihkan pendapatannya, akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan bunga, akan menanggung risiko kecurian atau risiko kehilangan uangnya, dan ketika terjadi kejadian yang tidak terduga, tidak akan memiliki simpanan cadangan.

Dampak kumulatif dari  lapisan besar penduduk yang secara efektif tersisihkan  dari akses terhadap pelayanan keuangan formal adalah beban biaya pribadi dan  sosial (private and social cost), yang pada akhirnya menghambat pertumbuhan dan pengembangan ekonomi. Hal itu tentu sama sekali tidak menolong upaya pengentasan kemiskinan, yang juga menjelaskan mengapa Pemerintah Indonesia makin meningkatkan dukungan kepada penyertaan sektor keuangan (financial inclusion).

Sampai saat ini,  data yang tersedia mengenai jenis layanan keuangan yang dibutuhkan oleh calon nasabah potensial dari  penduduk yang belum terlayani  oleh bank di Indonesia masih terbatas. Hanya sedikit yang memahami akan rintangan yang dihadapi pada sisi permintaan. Hal ini berlawanan dengan berlimpahnya informasi dan analisis yang tersedia tentang akses terhadap kredit untuk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) – (khusus). 

Sektor keuangan (financial inclusion), bertujuan menciptakan kesejahteraan ekonomi melalui pengurangan kemiskinan, dengan membangun sistem keuangan yang mudah diakses masyarakat dengan biaya terjangkau – (umum).

"Sektor pertanian harus menjadi sasaran utama keuangan inklusif. Apalagi, dari sekitar 233 juta penduduk Indonesia, 40 juta jiwa di antaranya merupakan masyarakat yang bekerja pada sektor pertanian," kata Aviliani Komisaris Independen PT Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Jadi, apa saja pilihan untuk meningkatkan akses terhadap layanan keuangan/keterlibatan sektor keuangan di Indonesia di masa depan? Satu pilihan yang telah dicoba dengan tingkat keberhasilan yang cukup pada beberapa negara lain adalah bagi bank-bank untuk menawarkan layanan perbankan dasar, atau rekening “tanpa embel-embel” (no frills account). Pilihan ini telah diuji-cobakan oleh beberapa bank di Indonesia dengan dukungan dari Bank Indonesia, dengan nama “TabunganKu”. Rekening tabungan berfasilitas minimum  tersebut dapat menjadi titik awal pembelajaran masyarakat akan produk-produk dan layanan keuangan lainnya. Mendorong orang-orang untuk menggunakan rekening tabungan berfasilitas minimum tersebut secara sepenuhnya dan secara berangsur-angsur membantu mereka untuk bergerak menuju rekening tabungan reguler dan sepenuhnya menggunakan seluruh jajaran layanan keuangan yang sesuai dengan kebutuhan mereka adalah kunci menuju peningkatan keterlibatan keuangan.


Daftar pustaka :



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar